Pemda DIY Panen Pengembangan Kampung Peramalan FSEV di Sumbersari Moyudan
Sumbersari – Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Melaksanakan panen pengembangan Kampung Peramalan atau Forecasting Smart Eco Village (FSEV) di Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, Sabtu (7/3/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan ketahanan pangan melalui penerapan teknologi peramalan organisme pengganggu tanaman di wilayah pertanian.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Aris Eko Nugroho, menyampaikan bahwa sektor pertanian saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim hingga dinamika serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Kondisi tersebut menuntut adanya pendekatan yang lebih adaptif, terukur, dan berbasis data dalam pengelolaan usaha tani.
Menurutnya, wilayah Sumbersari memiliki potensi pertanian yang baik, namun juga termasuk daerah endemis serangan tikus. Oleh karena itu, penerapan teknologi peramalan melalui program FSEV menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kemampuan petani dalam melakukan mitigasi sejak dini terhadap potensi serangan hama.
“Penerapan teknologi dalam dunia pertanian bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Melalui teknologi peramalan, petani dapat selangkah lebih maju dalam mengantisipasi serangan hama, sehingga pengendalian dapat dilakukan secara lebih efektif, terencana, dan berkelanjutan,” ujar Aris.
Program FSEV yang dilaksanakan di wilayah tersebut merupakan bentuk kolaborasi antara Pemerintah Daerah DIY dengan Kementerian Pertanian, khususnya melalui Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT). Program ini memanfaatkan pendekatan Disruptive Agriculture Technology (DAT) serta sistem P3OPT yang meliputi pengamatan, peramalan, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman.
Pendekatan ini mendorong perubahan paradigma pengendalian hama di tingkat petani. Jika sebelumnya pengendalian dilakukan setelah serangan terjadi, maka melalui sistem peramalan, tindakan pencegahan dapat dilakukan lebih awal berdasarkan data hasil pengamatan lapangan dan analisis potensi perkembangan hama.
Hasil penerapan teknologi tersebut menunjukkan peningkatan produktivitas pada lahan demplot yang menjadi lokasi uji penerapan program. Berdasarkan hasil ubinan pada musim panen saat ini, produktivitas padi mencapai 7,53 ton per hektare. Angka tersebut meningkat sekitar 10,73 persen dibandingkan musim tanam sebelumnya yang mencapai 6,8 ton per hektare.
Aris menjelaskan bahwa peningkatan produktivitas tersebut menunjukkan efektivitas penerapan sistem peramalan dalam menekan potensi kehilangan hasil akibat serangan tikus. Dengan informasi peramalan yang akurat, petani dapat melakukan langkah pengendalian secara lebih tepat waktu dan efisien.
Ia juga menginstruksikan kepada petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) serta penyuluh pertanian lapangan di wilayah Moyudan untuk terus menyebarluaskan metode peramalan kepada para petani. Upaya tersebut diharapkan dapat memperluas penerapan teknologi pertanian presisi di tingkat lapangan.
Selain pemanfaatan teknologi peramalan, program FSEV juga mengintegrasikan pendekatan ekosistem berkelanjutan melalui pengendalian hayati. Salah satunya dengan mendukung konservasi burung hantu Tyto alba sebagai predator alami tikus di area persawahan. Pendekatan ini menjadi bagian dari konsep eco village yang menekankan pengelolaan lingkungan pertanian secara ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Dalam kegiatan panen tersebut juga ditunjukkan penggunaan alat panen modern combine harvester. Pemanfaatan alat ini bertujuan meningkatkan efisiensi proses panen sekaligus meminimalkan kehilangan hasil dibandingkan metode panen manual yang sebelumnya digunakan petani.
Melalui program Kampung Peramalan FSEV, petani juga mendapatkan penguatan kapasitas melalui serangkaian kegiatan pembelajaran dan praktik lapangan yang telah dilaksanakan dalam beberapa pertemuan. Peserta diharapkan dapat menjadi pelopor dalam penerapan sistem pertanian presisi dan membagikan pengetahuan tersebut kepada petani lain di wilayah sekitarnya.
Pemerintah Daerah DIY berkomitmen untuk terus mendukung inovasi dan penerapan teknologi pertanian yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani. Model Kampung Peramalan yang dikembangkan di Sumbersari diharapkan dapat menjadi percontohan yang dapat direplikasi di wilayah endemis lainnya di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dengan penguatan sistem peramalan serta penerapan teknologi pertanian yang tepat guna, pemerintah berharap produktivitas pertanian di wilayah DIY dapat terus meningkat sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah. (Giek )
Kirim Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin