Sejumlah Tokoh Publik Hadiri Wiwitan dan Panen Raya Padi di Bulak Ngaglik Sumbersari

09 Maret 2026
Administrator
Dibaca 5 Kali
Sejumlah Tokoh Publik Hadiri Wiwitan dan Panen Raya Padi di Bulak Ngaglik Sumbersari

Sumbersari – Upacara tradisi Wiwitan adalah merupakan ritual masyarakat petani sebelum panen padi, yang bermakna “memulai” memotong padi dengan harapan mendapat hasil yang melimpah. Hal tersebut dilakukan oleh Gabungan Kelompok Tani ( Gapoktan) Sumbersari, yang berlangsung pada Sabtu ( 7/3/2026 ) bertempat di bulak Ngaglik, Sumbersari, Moyudan, Sleman.

Dalam upacara tersebut dihadiri sejumlah tokoh publik diantaranya Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan ( BBPOPT) Direktorat Jendral Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Direktur Pembenihan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian. Hadir pula Kepala Dinas Pertanian DIY, Kepala Balai Besar Penerapan dan Modeenisasi Pertanian DIY. Tokoh lain yang ikut hadir adalah Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, perwakilan Pusat Konservasi Tyto Alba DIY. Tidak ketinggalan Panewu, Kapolsek, Danramil Moyudan, Lurah Sumbersari. Penyuluh Lapangan Pertanuan ( PPL), Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan ( POPT), serta anggota Gapoktan dan seluruh Peserta Kegiatan Kampung Peramalan.

Upacara dimulai dengan kirab ubarampe sesaji dari Hanggar Tani, sesampai dilokasi persawahan diawali dengan memetik sejumlah padi sesuai dengan jumlah neton hari. Sesuai adat Jawa Sabtu Pon ( Sabtu 9, Pon 7 ) jumlah 16 tangkai padi dibuat sedemikian rupa yang biasa disebut temantenan. Selanjutnya dilakukan pitong tumpeng yang dilakukan oleh Kepala Dinas Pertanian DIY Aris Eko Nugroho diserahkan kepada Ketua Gapoktan Sumbersari. Selanjutnya sejumlah tokoh publik tersebut secara simbolis melakukan potong padi bersama, sebagai pertanda dimulainya panen raya di bulak tersebut.

Perwakilan dari Balai Proteksi Tanaman Pertanian DPKP DIY Wiwik menuturkan alasan sejumlah tokoh ikut hadir dalam Wiwitan tersebut, karena Gapoktan Sumbersari sebagai ditetapkan sebagai Kampung Peramalan ( Forecasting Smart Eco Vilage ) sejak bulan November 2025. ” Lokasi ini merupakan daerah endemi tikus di Kabupaten Sleman.” Tutur Wiwik. Sebagai upaya memberikan edukasi dan pelatihan maka Kalurahan Sumbersari ditetapkan sebagai Kampung Peramalan.

Lebih lanjut Wiwik menjelaskan bahwa Kampung peramalan adalah konsep pengembangan desa berbasis teknologi digital dan berkelanjutan ( Smart Eco Vilage) yang berfokus pada kemampuan memprediksi atau meramalkan potensi masalah, resiko, atau peluang di desa secara akurat. “Secara spesifik dalam. Kontek pertanuan, Forecasting Smart Eco Village ( FSEV) sering diartikan sebagai Kampung Peramalan OPT ( Organisme Pengganggu Tumbuhan). ” Terang Wiwik.
Sedangkan tujuan dan manfaat FSEV adalah Pencegahan dini, mencegah ledakan hama dengan bertindak pada stadia terlemah, sebelum populasi terlalu tinggi. Keamanan tanaman : Mengurangi risiko gagal panen melalui data akurat dan pemetaan, tidak hanya berdasar perkiraan. Kemudian Ramah Lingkungan dengan menerapkan prinsip Green Village dengan menjaga keseimbangan ekosistem. ” Dan hal yang tak kalah penting adalah Pemberdayaan Petani melalui sekolah lapang dan pendampingan, sehingga petani menjadi lebih mandiri dalam mengelola Pertanian secara digital.” Sambungnya.

“Singkatnya FSEV adalah upaya menjadikan desa cerdas dengan menggunakan data dan teknologi untuk meramalkan bdan mengatasi masalah pertanian demi berkelanjutan.” Pungkas Wiwik.
( Giek )